.

Baglog, Limbah Budidaya Jamur Tiram Yang Masih Bermanfaat

Posted by Jaya Tani Saluyu, Pusat PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR TANGERANG dan BOGOR


sampah/limbah baglog masih bermanfaat untuk pupuk, media tumbuh cacing

sampah/limbah baglog masih bermanfaat untuk pupuk, media tumbuh cacing



Limbah budidaya jamur tiram yang belum termanfaatkan berupa sisa baglog jamur yang dapat diolah menjadi kompos. Kompos adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses pengomposan. Pengomposan didefinisikan sebagai penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis pada suhu tinggi. 

Kompos yang baik adalah yang mengandung bahan asing kurang dari 0,5%. Oleh karena itu, sebelum dilakukan pengomposan bahan baku harus dipilih terlebih dahulu. Beberapa bahan alami yang dapat dicampur dengan bahan baku kompos dan bermanfaat untuk meningkatkan nilai unsur hara kompos, diantaranya adalah sumber kapur, nitrogen, fosfor, dan kalium. Penambahan dolomit sebagai sumber kapur berfungsi untuk meningkatkan pH tumpukan kompos. Kandungan nitrogen dapat diperkaya dengan mengomposkan bahan yang banyak mengandung nitrogen, seperti kotoran hewan, tinja, residu tanaman Leguminosae, dan dapat pula ditambahkan bakteri penambat nitrogen seperti Azetobacter. Sebagai sumber fosfor dapat ditambahkan bubuk batuan, fosfat, tulang, darah kering, dan limbah pisang. 

Sebagai sumber kalium dapat ditambahkan kulit dan batang pisang, ganggang, serta tanaman kentang kering. Limbah organik yang telah disortir, selanjutnya dipotong-potong atau diperkecil ukurannya untuk mempermudah dekomposisi oleh mikroorganisme. Ukuran bahan sekitar 50 mm. Setelah dikecilkan ukurannya, bahan dicampur dan disusun menjadi tumpukan. Penumpukan dilakukan di atas terowongan udara yang terbuat dari bambu agar aerasi udara berlangsung baik sehingga pengomposan berlangsung secara aerobik. Ukuran tinggi tumpukan 1,5 m, lebar 1,75-2 m dan panjang 2 - 4 m. Buat lubang dengan besi sedalam 2/3 dari tinggi tumpukkan, masukkan termometer pada lubang tersebut selama 1-2 menit, kemudian dicabut dan diamati suhu tumpukan kompos. Kadar air tumpukan diperiksa dengan mengambil bahan dari dalam tumpukkan, kemudian diremas dengan kepalan tangan. Bila diremas tidak keluar air sama sekali, berarti kering. Bila air mengalir cukup banyak dari sela-sela jari, berarti tumpukan terlalu basah. 

Lakukan pembalikan untuk mengatur suhu, kelembaban, dan aerasi. Bila tumpukan terlalu dingin atau panas maka tumpukan harus dibalik. Suhu tumpukan harus mencapai 55 oC selama minimal 15 hari. Setelah proses pengomposan aktif berhenti, pematangan dilakukan agar kompos dapat mencapai kestabilan akhir. Proses pematangan berlangsung sekitar 14 hari. Apabila suhu tetap 45 oC maka dapat disimpulkan bahwa kompos telah matang. Kompos yang telah matang dapat dicirikan sebagai berikut :

• Bentuk fisik tumpukkan kelihatan hancur dan tumpukan lebih kecil dengan penyusutan berat mencapai 50% dari berat awal.
• Warna tumpukan kehitam-hitaman menyerupai warna tanah.
• Tidak berbau.
• Selama beberapa hari suhu tetap sama atau kurang dari 45 oC.
• Penurunan kadar organik pada kompos yang diukur dengan kadar COD, persentase karbon atau kadar abu, dan nisbah C/N.
• Keberadaan unsur-unsur khusus seperti nitrat dan ketidakhadiran unsur - unsur lain seperti amonia.

Kompos matang dikelompokkan menjadi tiga ukuran, yaitu kompos harus berukuran maksimal 10 mm, kompos sedang berukuran minimal 16 mm, dan kompos besar berukuran maksimal 25 mm. Kompos dapat dikemas dengan menggunakan karung atau plastik.


Baca juga:
Pembuatan baglog jamur

Related Post